Reportase Seri Webinar Forest Wellness : Potensi Pengembangan Wisata Terapi Hutan & Medical Wellness
Reportase
Seri Webinar Forest Wellness : Potensi Pengembangan Wisata Terapi Hutan & Medical Wellness
-
Seri 4
-
Seri 3
-
Seri 2
-
Seri 1
Rabu, 19 Maret 2025
Pertemuan keempat dari rangkaian Seri Webinar Forest Wellness yang diadakan saat ini bertujuan untuk operasional layanan forest wellness. Layanan forest wellness diberikan oleh terapis yang sudah masuk dalam tenaga kesehatan, seperti disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. Salah satu layanan yang ada dalam rangkaian forest wellness adalah mindfulness, dilakukan oleh psikolog klinis yang termasuk dalam tenaga kesehatan. Layanan tersebut didukung oleh persebaran psikolog klinis yang sudah ada di puskesmas atau klinik, sehingga kedepannya layanan tersebut dapat dikembangkan sebagai layanan promotif preventif. Persiapan SDM yang perlu dipertimbangkan untuk layanan tersebut meliputi sertifikasi untuk tiap jenis SDM yang perlu disesuaikan dengan regulasi yang sudah berlaku.
Teknik jeda untuk konservasi energi penyembuhan dengan latihan sederhana present moment dibahas oleh C.W. Adinugroho, S.Psi, M.Psi., Psikolog. Kondisi masyarakat saat ini menggambarkan budaya kesibukan, cenderung untuk terus mengikuti tren, tidak bisa lepas dari gadget sehingga jeda dari kesibukan tersebut sangat dibutuhkan untuk kesehatan mental dan fisik. Jeda tersebut dilakukan dengan proses mindfulness untuk menginterupsi respons otomatis stres sehingga seseorang dapat mengenal diri sendiri lebih dalam dan memungkinkan untuk menghasilkan respons yang bijaksana. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengembalikan keseimbangan, menyatu dengan alam melalui mendengarkan suara angin, pergerakan air, burung berkicau serta grounding untuk merasakan kondisi alam sekitar. Selain itu, praktik mindful walking atau duduk diam juga dapat dilakukan sebagi proses adaptasi dengan lingkungan alami yang berguna untuk mempercepat penyembuhan fisik dan mental. Konsep terakhir yaitu mengizinkan emosi yang mengalir dalam tubuh kita sehingga stres, ketegangan, dan air mata dapat dilepas dan tidak ada lagi emosi yang terpendam.
F.R. Herin Anggreni P, M.Biomed (AAM) memaparkan terkait teknik self-healing dengan kekuatan transpersonal manusia. Inner healing merupakan proses aktif yang dapat ditingkatkan sehingga individu dapat menyembuhkan dirinya sendiri sewaktu-waktu. Tubuh kita memerlukan rasa kasih sayang untuk diri sendiri berupa penerimaan diri tanpa penghakiman, menciptakan kontak dengan diri sendiri, serta peduli terhadap diri sendiri sehingga tidak memunculkan respon patologis yang memicu kondisi negatif dari tubuh kita berupa kehilangan motivasi dan kehilangan harapan atas diri sendiri. Hal tersebut dilakukan dengan pendekatan transpersonal dengan cara rileks dan fokus. Beberapa metode dapat dilakukan untuk pendekatan berikut, diantaranya metode deep relaxation, dialog dengan organ dalam tubuh, fokus pada respon psikologis untuk mengasihi diri sendiri, pemberian instruksi dan sugesti positif, hingga pembentukan komponen atom dalam tubuh sebagai respond dari aliran energi kasih sayang.
Rencana bisnis wisata terapi hutan dan medical wellness melalui kerjasama antara pengelola resort/hotel dengan RS/Klinik dijelaskan oleh Elisabeth Listyani, S.E., M.M. Untuk mengembangkan layanan forest therapy, terlebih dahulu harus mengenali ekosistem yang ada, seperti pemasok, pesaing, siapa pengguna, hingga produk substitusi. Persaingan antar operator forest therapy belum ketat dan terbuka kesempatan untuk bekerja sama dengan healing forest yang ada di berbagai Taman Nasional. Kemudian, operator yang ingin mengembangkan layanan forest therapy juga harus mengidentifikasi apa saja alat kesehatan, hingga assessment terhadap spot hutan yang akan digunakan, siapa saja pasar yang akan dituju, hingga siapa mitra kerjasama yang berpotensi untuk diajak berkolaborasi. Dalam menyusun paket perjalanan (health journey), harus mencakup mulai dari pra kedatangan, saat kedatangan dan pasca kedatangan. Berikutnya, menentukan model bisnis seperti apa yang akan digunakan. Rekomendasi model bisnis yang disarankan yaitu RS/Klinik bekerja sama menggunakan sumber daya yang sudah ada, sehingga proses pengembangan layanan bisa berjalan dengan lebih cepat. (Bestian Ovilia Andini)
Rabu, 12 Maret 2025
Terapi hutan terbukti menghasilkan banyak manfaat kesehatan mental dan fisik yang mungkin akan banyak diminati masyarakat terutama bagi mereka yang penuh dengan kesibukan akibat pekerjaan dan membutuhkan alam sebagai media untuk memperoleh ketenangan. Oleh karena itu, terapi hutan ini cukup potensial untuk dikembangkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan dengan berbagai persiapan mulai dari persiapan hutan, tenaga profesional, hingga kegiatan yang akan dilakukan selama sesi terapi.
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D.membuka seri webinar dengan penjelasan terkait ekosistem forest healing yang masih perlu disiapkan meski telah banyak pengetahuan forest healing yang dibahas. Selain itu, persiapan lain seperti siapa penyedia jasa forest healing, pendanaan serta sumber daya manusia, mitra kerjasama, serta segmentasi pasar yang spesifik sebagai tujuan siapa yang akan diberikan layanan tersebut juga perlu diidentifikasi sebelum mengembangkan forest healing di fasilitas pelayanan kesehatan.
C.W. Adinugroho, S.Psi, M.Psi., Psikolog menjelaskan terkait bagaimana menyelaraskan jantung dan otak dalam forest healing dengan menggunakan transpersonal psikologi, dimana jantung dan otak berperan penting sebagai pusat kesadaran dan energi sehingga berpengaruh terhadap kesadaran dan keseimbangan mental dan fisik. Selain itu, keseimbangan jantung juga berpengaruh terhadap sekresi hormon yang berfungsi untuk kekebalan tubuh. Cara penyelarasan jantung dan otak dilakukan dengan metode pernafasan kesadaran jantung (heart focused breathing), aktivasi perasaan positif (heart based emotion activation). Kedua metode tersebut kemudian menghasilkan perubahan sensasi dan energi yang merupakan hasil keselarasan antara gelombang otak dan jantung.
Berikutnya, proses layanan dan evaluasi forest healing disampaikan oleh dr. F.R. Herin Anggreni P, M.Biomed (AAM) dimana Forest Therapy Indonesia dikembangkan sebagai layanan ruang sehat tanpa dinding yang merupakan kolaborasi dari berbagai stakeholders untuk melestarikan hutan di Indonesia sebagai oase penyembuh. Layanan tersebut memiliki 3 kesiapan, meliputi penentuan dan survei kelayakan hutan, persiapan tenaga profesional, serta perencanaan bisnis yang meliputi marketing dan penentuan tarif. Kemudian, proses forest healing terhadap pasien dilakukan dengan orientasi, eksplorasi, modalitas terapi antara mind, body, soul, serta evaluasi. Selain itu, peserta diberikan informasi terkait larangan dan himbauan selama melakukan forest healing. Sebagai tahap terakhir dari forest healing, dilakukan evaluasi kesehatan mental dan fisik dari peserta yang meliputi penilaian diri hingga survei kepuasan dan diskusi terbuka terkait pengalaman selama menjalani sesi sehingga diharapkan evaluasi tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas sesi berikutnya.
Hal lain yang perlu dipersiapkan lebih lanjut adalah bagaimana mengoperasionalkan pelayanan dalam ekosistem forest healing tersebut, mulai dari model bisnis, tema terapi, lokasi hutan yang sesuai dengan tema terapi, rencana pemasaran, operasional, sampai dengan harga yang akan ditawarkan. (Bestian Ovilia Andini)
Rabu, 5 Maret 2025
Terapi hutan merupakan sebuah terapi yang memanfaatkan pemandangan alam yang tidak hanya menenangkan, namun juga menciptakan keseimbangan dengan melibatkan seluruh indra dalam tubuh kita. Terapi ini merupakan sebuah solusi untuk rehat sejenak dari kesibukan yang tentunya dapat bermanfaat dapat jangka panjang sekaligus sebuah peluang inovasi usaha baru yang dapat dikembangkan oleh operator wellness di Indonesia. Namun, sebelum mengembangkan terapi hutan, berbagai persiapan harus dilakukan seperti identifikasi spot yang akan dipakai untuk terapi hingga metode terapi yang akan diterapkan untuk pasien.
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D memulai seri webinar dengan mengenalkan forest wellness sebagai sebuah inovasi baru dari pemanfaatan lingkungan yaitu hutan. Seiring dengan adanya isu lingkungan yang ada saat ini, kelestarian hutan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Selain menjaga ekosistem lingkungan, hutan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk terapi kesehatan dan fungsi rekreasi seperti Taman Nasional yang telah tersebar di seluruh Indonesia. Kedua fungsi tersebut harapannya dapat menjadi sebuah peluang usaha yang dapat dikembangkan khususnya bagi operator medical wellness.
Identifikasi spot untuk forest healing disampaikan oleh dr. Andry Edwin Dahlan dengan menyinggung isu lingkungan yang saat ini terjadi dapat disebabkan oleh karena tata kelola lingkungan yang kurang baik, sehingga kelestarian ekosistem hutan dapat ditingkatkan untuk mengatasi isu tersebut. Selama kelestarian hutan terjaga, maka hutan dapat dimanfaatkan sebagai terapi dengan persiapan identifikasi jalur yang ideal untuk forest healing, diantaranya gentle slopes, bebas polutan, suara maksimal 50dB namun boleh lebih dari batas tersebut jika berasal dari suara air atau suara alam lainnya, tidak menakutkan, jalur yang cukup lebar, terdapat evergreen dengan aura yang positif, dilengkapi dengan fasilitas restroom, serta jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh yaitu 2-3 km. Selain itu, penilaian temperatur 20o - 26oC, kelembaban (maksimal 80), cahaya, kecepatan angin, elevasi (maksimal 15%), identifikasi hewan-hewan yang hidup dalam hutan, serta aktifitas yang akan dilakukan dalam rangkaian terapi dan screening kesehatan dari partisipan sebelum terapi juga perlu diidentifikasi sebagai persiapan.
F.R Herin Anggreni P, M.Biomed (AAM) membahas terkait struktur terapi hutan yang berpusat pada hati bahwa kelelahan kronis dapat menyebabkan kurangnya produktifitas sehari-hari sehingga dibutuhkan rekoneksi terhadap alam untuk mengembalikan energi dan menyeimbangkan hormon dalam tubuh. Terapi hutan dipusatkan pada jantung dimana energi elektromagnetik jantung yang terhubung dengan otak memiliki fungsi penyembuhan dalam tubuh. Terapi ini dilakukan berdasarkan 3 pendekatan utama, yaitu pendekatan terhadap mind untuk mengurangi stres, body untuk meningkatkan daya tahan dan soul sebagai coping. Selanjutnya, terapi tersebut dilakukan dengan meditasi kesadaran, berjalan-jalan menyusuri hutan, melibatkan semua 5 panca Indera, serta memperhatikan setiap sensasi yang muncul dan terhubung dengan alam. Selain itu, dalam ilmu psikologi terapi hutan dapat menimbulkan inner healing activation yang berfungsi untuk meningkatkan kasih sayang terhadap diri sendiri, menyehatkan organ, serta memasukkan impian kedalam bawah sadar kita yang dapat dimulai dengan kebiasaan kecil yang cukup berarti. (Bestian Ovilia Andini)
Rabu, 26 Februari 2025
Terapi hutan (forest wellness) merupakan pemanfaatan hutan sebagai terapi kesehatan untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi fisik dan mental. Hutan sebagai media dapat menimbulkan efek psikologis jangka panjang berupa ketenangan yang dapat membantu individu untuk mengurangi stress, kelelahan akibat pekerjaan yang tidak bisa didapatkan ditengah kesibukan perkotaan. Oleh karena itu, forest wellness dapat dimanfaatkan sebagai sebuah peluang bagi operator kesehatan sebagai produk layanan wisata kesehatan dengan memanfaatkan segmen pasar non BPJS.
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D menyampaikan bahwa forest wellness didefinisikan sebagai pemanfaatan hutan bagi manusia untuk kesehatan yang dilakukan oleh therapist dengan pendekatan forest healing. Namun perkembangan forest therapy di Indonesia saat ini masih menemui banyak tantangan karena kurangnya therapist dan praktisi untuk forest healing yang tersertifikasi, berbeda dengan forest guide yang sudah banyak ditemui.
Sesi paparan dimulai oleh Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Agr.Sc. yang memaparkan bahwa Indonesia memiliki biodiversity yang dapat dimanfaatkan salah satunya yaitu pemanfaatan hutan-hutan yang ada, seperti Taman Nasional Merapi dan Merbabu sebagai forest healing / forest therapy, dimana harus disertai dengan assessment, verifikasi, dan pemilihan site yang disesuaikan dengan kebutuhan terapi. Pemanfaatan hutan sebagai wisata kesehatan tersebut tentunya harus melibatkan dukungan dari banyak sektor, tidak hanya dari sektor kesehatan, namun dukungan dari stakeholders serta masyarakat juga dibutuhkan.
Berikutnya, forest healing yang melibatkan sinergi Kedokteran Integratif dengan Pariwisata Wellness dijelaskan oleh dr. F.R Herin Anggreni P, M.Biomed(AAM). Tren masalah kesehatan menurut responden global tahun 2023 didominasi oleh masalah kesehatan mental, sehingga forest therapy merupakan pendekatan terapi kesehatan modern yang berfungsi untuk memulihkan energi dan merasakan ketenangan. Forest healing merupakan kombinasi antara ilmu kehutanan dan ilmu kedokteran yang menghasilkan kekuatan penyembuhan hutan, dimana terbagi menjadi 2 jenis, yaitu forest bathing yaitu tindakan non klinis dan bisa dilakukan sendiri atau dipandu oleh forest guide, serta forest therapy sebagai tindakan klinis dengan intervensi yang harus dipandu oleh tenaga profesional kesehatan. Forest therapy tersebut harus disertai dengan persiapan mulai dari identifikasi spot dan parameter lingkungan hingga penilaian kesehatan peserta. Keberhasilan pengembangan forest healing tersebut memerlukan keterlibatan dan dukungan lintas sektor, mulai dari RS sebagai pintu masuk pasien, masyarakat sebagai pelaksana teknis, hingga universitas sebagai pihak akademisi yang dapat melaksanakan penelitian terkait forest therapy. (Bestian Ovilia Andini)